KabarDesaNusantara.Com, KOTA BEKASI, — Prestasi mahasiswa tidak semestinya berjalan dengan satu kaki. Di satu sisi ada lapangan yang menuntut ketangguhan fisik, disiplin, dan daya juang; di sisi lain terdapat ruang akademik yang menguji kemampuan berpikir, memahami ilmu pengetahuan, serta membangun kompetensi profesional.
Gagasan itulah yang menjadi salah satu pesan utama dalam PJKR UM.ID Award 2026, ketika Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM.ID) memberikan apresiasi kepada mahasiswa melalui dua kategori, yakni Academic Excellence dan Sport Achievement.
Ketua Program Studi PJKR UM.ID, Dr. Aridhotul Haqiyah, M.Pd., menegaskan bahwa kedua capaian tersebut tidak seharusnya dipertentangkan. Prestasi akademik dan olahraga justru perlu tumbuh berdampingan sebagai bagian dari proses pembentukan mahasiswa yang kelak memasuki dunia profesional pendidikan jasmani.
“Jadikan penghargaan ini bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai awal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. Teruslah belajar, berlatih, berproses, rendah hati, dan jangan pernah berhenti bercita-cita,” pesan Aridhotul.
Bagi PJKR UM.ID, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni pemberian apresiasi. Ia menjadi semacam cermin untuk melihat bahwa ukuran keberhasilan mahasiswa pendidikan jasmani tidak berhenti pada kemampuan berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, atau memenangkan pertandingan.
Ada ukuran lain yang berjalan beriringan: kemampuan memahami ilmu, mengembangkan gagasan, membangun karakter, serta mempersiapkan diri menjadi tenaga profesional.
Kategori Academic Excellence menjadi bentuk penghargaan bagi mahasiswa yang menunjukkan capaian di bidang akademik.
Penempatan kategori tersebut memiliki pesan tersendiri. Di tengah identitas PJKR yang lekat dengan aktivitas fisik dan olahraga, kemampuan intelektual tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam proses pendidikan.
Mahasiswa PJKR tidak hanya dipersiapkan untuk memahami teknik olahraga. Mereka juga dituntut menguasai pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan jasmani, sehingga kemampuan praktik memiliki pijakan teoritis dan akademik.
Dalam alegori sederhana, lapangan adalah tempat tubuh ditempa, sedangkan ruang akademik menjadi tempat nalar diasah. Keduanya membutuhkan disiplin dan konsistensi.
Karena itu, prestasi akademik bukan sekadar angka yang tercantum dalam lembar penilaian. Ia menjadi salah satu indikator kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan profesi yang membutuhkan kemampuan berpikir, memahami persoalan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, Sport Achievement memberikan ruang penghargaan bagi mahasiswa yang mampu menunjukkan prestasi di bidang olahraga.
Prestasi tersebut tidak muncul seperti peluit yang tiba-tiba berbunyi di tengah pertandingan. Di belakangnya terdapat rangkaian proses: latihan, kompetisi, kegagalan, evaluasi, disiplin, dan keberanian untuk kembali mencoba.
Karena itu, capaian olahraga juga dipandang sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan.
Mahasiswa yang memiliki potensi olahraga didorong untuk terus mengembangkan kemampuannya melalui latihan dan kompetisi. Penghargaan menjadi bentuk pengakuan terhadap proses tersebut sekaligus dorongan agar prestasi tidak berhenti pada satu podium.
Di titik inilah PJKR UM.ID Award 2026 membawa pesan bahwa medali bukan garis finis. Ia lebih menyerupai papan penunjuk arah yang mengingatkan seorang atlet bahwa masih ada lintasan berikutnya yang harus ditempuh.
Aridhotul mengingatkan mahasiswa penerima penghargaan agar tidak menjadikan capaian yang diraih sebagai akhir perjalanan.
Penghargaan, menurut pesan yang disampaikan, harus menjadi energi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi.
Sementara bagi mahasiswa yang belum memperoleh penghargaan, proses pembinaan tetap terbuka. Prestasi tidak selalu datang pada percobaan pertama. Ia membutuhkan keberanian untuk mencoba, kemauan belajar, konsistensi berlatih, serta evaluasi terhadap kekurangan.
Pesan tersebut penting karena budaya prestasi tidak semestinya hanya mengenal mereka yang berdiri di podium. Budaya prestasi juga harus menyediakan ruang bagi mereka yang masih berlari mengejar garis depan.
Dalam kerangka itu, penghargaan bukan sekadar membedakan siapa yang telah berhasil dan siapa yang belum. Penghargaan juga dapat menjadi obor kecil yang menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk menyalakan prestasinya melalui proses yang berbeda.
PJKR UM.ID juga mendorong mahasiswa agar meningkatkan daya saing hingga tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Dorongan tersebut menempatkan prestasi mahasiswa dalam konteks yang lebih luas. Persaingan tidak lagi hanya terjadi di lingkungan kampus, tetapi juga di ruang kompetisi yang lebih besar.
Namun, daya saing tidak cukup dibangun melalui kemampuan teknis.
Lulusan PJKR dituntut memiliki pemahaman teori pendidikan jasmani sekaligus kompetensi, karakter, kepemimpinan, dan kemampuan berkompetisi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi individu yang mampu tampil di lapangan, tetapi juga calon tenaga profesional yang mampu membawa nilai pendidikan dalam profesinya.
Tubuh tanpa pengetahuan ibarat kendaraan tanpa peta, sementara pengetahuan tanpa keberanian untuk bergerak seperti peta yang tidak pernah dibawa menuju perjalanan. PJKR UM.ID berupaya mempertemukan keduanya melalui pembinaan yang menempatkan akademik dan olahraga sebagai dua unsur yang saling menguatkan.
Melalui PJKR UM.ID Award 2026, pembinaan mahasiswa diarahkan untuk membangun budaya prestasi yang tidak hanya berorientasi pada kemenangan.
Academic Excellence dan Sport Achievement menjadi dua pintu menuju tujuan yang sama: membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan intelektual, keterampilan, karakter, dan daya juang.
Pada akhirnya, penghargaan hanyalah satu episode dari perjalanan panjang mahasiswa.
Podium dapat menjadi tempat seseorang menerima tepuk tangan, tetapi proses setelah turun dari podiumlah yang menentukan apakah prestasi tersebut akan menjadi cerita sesaat atau menjadi pijakan menuju pencapaian berikutnya.
Bagi PJKR UM.ID, lapangan dan ruang akademik bukan dua dunia yang saling berseberangan. Keduanya adalah dua sayap yang harus bergerak bersama agar mahasiswa mampu terbang lebih jauh, bukan hanya mengejar prestasi hari ini, tetapi juga mempersiapkan kompetensi untuk menjawab tuntutan profesinya di masa depan.
Wartawan: A2TP, Editor: Red

Tinggalkan Balasan