KabarDesaNusantara.Com, KABUPATEN BEKASI — Ribuan massa dan relawan pendukung calon Kepala Desa Sumberjaya nomor urut 1, Dulloh Safei alias Bangdul, memadati sejumlah ruas jalan Desa Sumberjaya, Kabupaten Bekasi, dalam agenda kampanye damai menjelang Pilkades periode 2026–2034, Minggu 13/09/26.
Iring-iringan sepeda motor dan kendaraan terbuka menjadi pemandangan dalam kegiatan tersebut. Sejumlah peserta juga membawa atribut dukungan. Namun, di balik semarak kampanye, terdapat pesan sederhana yang tidak kalah penting: banyaknya massa belum tentu menjadi cermin hasil di bilik suara.
Antusiasme pendukung menjadi salah satu gambaran dinamika politik menjelang pemungutan suara. Akan tetapi, jumlah massa dalam sebuah kegiatan tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai ukuran dukungan seluruh pemilih Desa Sumberjaya. Namun Dulloh Safei mengapresiasi kehadiran masyarakat dan relawan.
“Alhamdulillah, kampanye damai ini diikuti massa dan relawan,” ujar Dulloh.
Pilkades menjadi ruang bagi setiap calon untuk menawarkan gagasan. Karena itu, perhatian publik tidak hanya tertuju pada ramainya kampanye, tetapi juga pada visi, misi, rekam jejak, dan kemampuan calon menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam tahapan Pilkades tersebut, Bangdul memaparkan visi mewujudkan Desa Sumberjaya yang bersih, aman dan transparan melalui kebersamaan serta demokrasi tanpa paksaan.
“Saya ingin Sumberjaya menjadi desa yang bersih lingkungannya, aman warganya, dan transparan dalam setiap kebijakan. Semua kita capai dengan kebersamaan, bukan dengan paksaan,” katanya.
Ia membawa satu misi utama, yakni membangun pemerintahan yang aman, damai dan transparan serta menjalankan pembangunan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut menjadi tawaran politik yang nantinya perlu diuji melalui proses demokrasi dan, apabila memperoleh mandat warga, melalui pelaksanaan kebijakan pemerintahan desa.

Kontestasi kepala desa memiliki karakter berbeda dengan politik di tingkat nasional. Para kandidat dan pemilih berada dalam ruang sosial yang relatif dekat. Mereka bukan hanya berhadapan sebagai pendukung calon, tetapi tetap menjadi tetangga dan bagian dari masyarakat yang sama.
Kampanye damai tidak semestinya berhenti pada iring-iringan kendaraan atau atribut dukungan. Ukuran sederhananya adalah apakah seluruh pihak mampu menjaga ketertiban, menghormati perbedaan pilihan dan menerima hasil pemungutan suara.
Pada akhirnya, jalan desa boleh dipenuhi rombongan, tetapi keputusan politik tetap berada di bilik suara. Antusiasme adalah warna dalam demokrasi; kepercayaan warga adalah tinta yang menentukan hasilnya.
Wartawan: A2TP, Editor: Red

Tinggalkan Balasan