KabarDesaNusantara.Com, KOTA BEKASI — Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Bekasi dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi terhadap kondisi ketenagakerjaan, khususnya tingginya angka pengangguran di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan industri.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Yenny Kristianti, menilai persoalan pengangguran harus menjadi prioritas kebijakan pemerintah daerah karena masih tingginya angka pengangguran pada 2025 yang mencapai 7,2 persen.
“Tingginya angka pengangguran di Kota Bekasi pada tahun 2025 sebesar 7,2 persen menunjukkan masih adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja,” ujar Yenny.
Menurutnya, peringatan Hari Buruh tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi ajang refleksi terhadap efektivitas kebijakan ketenagakerjaan yang telah dijalankan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, angka pengangguran tersebut mencerminkan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja meski sektor industri di Kota Bekasi terus berkembang.
Kondisi itu dipengaruhi sejumlah faktor, seperti ketidaksesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri, keterbatasan pelatihan berbasis kompetensi, hingga belum maksimalnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal.
Karena itu, DPRD Kota Bekasi mendorong pemerintah daerah mengambil langkah konkret dan berkelanjutan guna menekan angka pengangguran, termasuk memperkuat program pelatihan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Yenny juga mengingatkan bahwa bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban sosial apabila tidak diiringi kebijakan ketenagakerjaan yang tepat.
“Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, legislatif, dunia usaha, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar penyerapan tenaga kerja di Kota Bekasi dapat berjalan lebih optimal dan mampu menjawab kebutuhan industri.
Momentum May Day, lanjut Yenny, harus menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan ketenagakerjaan melalui langkah yang terukur dan kolaboratif sehingga angka pengangguran di Kota Bekasi dapat terus ditekan.












