KabarDesaNusantara.Com, KABUPATEN BEKASI — Duka masih menyelimuti rumah keluarga Almarhum Bagus Satrio yang tinggal didaerah Babelan Kota, Kec. Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, korban kecelakaan maut di Jalan Sungai Tiram, Cilincing, Jakarta Utara.
Memasuki hari ketujuh sejak peristiwa tragis itu terjadi, keluarga korban mengaku belum menerima kejelasan maupun bentuk tanggung jawab dari pihak sopir trailer maupun perusahaan pemilik kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan.
Bagi keluarga, kehilangan Bagus bukan hanya meninggalkan luka emosional, tetapi juga memunculkan persoalan ekonomi. Almarhum selama ini dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ayah korban, Samijo, mengaku hingga kini belum ada pihak yang datang untuk menyampaikan empati ataupun memberikan penjelasan terkait proses penanganan kasus tersebut.
“Tidak pernah ada yang datang pak, baik dari pihak sopir, perusahaan mobil, bahkan kami juga belum mendapat penjelasan yang jelas. Anak saya itu orang baik, tulang punggung keluarga. Sehari-hari dia kerja kuli,” ujar Samijo dengan mata berkaca-kaca, Sabtu, (9/5/2026).

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana kecelakaan lalu lintas tidak hanya meninggalkan persoalan hukum, tetapi juga menghadirkan rasa ketidakadilan bagi keluarga korban ketika proses pertanggungjawaban dinilai berjalan lambat.
Dalam banyak kasus kecelakaan kendaraan berat di wilayah perkotaan, keluarga korban sering kali berada pada posisi paling lemah.
Mereka harus menghadapi kehilangan anggota keluarga sekaligus menunggu kepastian hukum yang tidak jarang memakan waktu panjang. Kondisi itu pula yang kini dirasakan keluarga dari almarhum Bagus.
Samijo menceritakan, sebelum kecelakaan terjadi, anaknya tengah menjalankan pekerjaan dari atasannya untuk membeli ikan asin. Namun tak lama setelah berangkat, kabar duka justru datang menghampiri keluarga.
“Kemarin sebelum kecelakaan dia disuruh bosnya belanja ikan asin. Tidak lama kemudian saya langsung dapat kabar anak saya kecelakaan,” katanya lirih.
Kecelakaan maut tersebut diketahui terjadi pada Jumat (1/5/2026) sekitar pukul 17.15 WIB di Jalan Sungai Tiram arah utara, dekat CV Lintang Kamulyan Abadi, Cilincing, Jakarta Utara.
Peristiwa itu melibatkan kendaraan trailer bernomor polisi B-9235-UFY dengan sepeda motor Honda Beat B-5881-FXQ yang dikendarai Bagus Satrio.
Korban meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka fatal setelah diduga berserempetan dengan kendaraan trailer.
Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya risiko kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat di kawasan industri dan jalur logistik Jakarta Utara.
Aktivitas kendaraan bertonase besar yang melintas di jalur padat kerap menjadi ancaman bagi pengendara roda dua, terutama saat jam sibuk.
Di sisi lain, keluarga korban menilai penanganan pasca kecelakaan seharusnya tidak berhenti pada proses penyelidikan semata.
Mereka berharap ada tanggung jawab moral dan sosial dari pihak perusahaan pemilik kendaraan, terlebih korban merupakan pencari nafkah utama keluarga.
Samijo pun meminta aparat kepolisian bekerja profesional dan transparan dalam menangani perkara tersebut.

“Saya minta pihak kepolisian profesional menangani kasus ini. Sopir dan pemilik mobil harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Harapan keluarga almarhum Bagus kini sederhana, yakni adanya kepastian hukum dan bentuk tanggung jawab nyata atas tragedi yang telah merenggut nyawa orang yang selama ini menjadi sandaran hidup keluarga.












