Gedung SMPN 03 Bojongmangu Terancam, Dampak Longsor Ditaksir Lebih dari Rp1 Miliar

📝 BPBD Kabupaten Bekasi mencatat total kerusakan dan kerugian bencana longsor di Kecamatan Bojongmangu mencapai Rp1,14 miliar berdasarkan hasil kajian Jitupasna. Dampak terparah terjadi pada bangunan SMPN 03 Bojongmangu, dipicu hujan deras berkepanjangan serta minimnya drainase di wilayah perbukitan.

KabarDesaNusantara.ComKabupaten Bekasi – Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kabupaten Bekasi melakukan Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) atas bencana longsor di Kecamatan Bojongmangu.

Hasil kajian mencatat total kerusakan dan kerugian mencapai Rp1,14 miliar, dengan dampak terparah terjadi pada bangunan SMPN 03 Bojongmangu.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Muchlis menjelaskan, longsor dipicu hujan deras berkepanjangan yang melanda wilayah Bojongmangu sejak 18 hingga 28 Januari 2026. Kondisi geografis berupa perbukitan memperparah dampak bencana.

“Kecamatan Bojongmangu merupakan wilayah perbukitan. Curah hujan yang sangat tinggi, ditambah minimnya saluran drainase di permukiman, membuat air meresap ke dalam tanah secara berlebihan dan merusak pondasi bangunan,” ujar Muchlis, Jumat (6/2/2026).

Berdasarkan data BPBD, terdapat lima titik longsor yang tersebar di dua desa, yakni dua titik di Desa Sukabungah dan tiga titik di Desa Sukamukti. Air hujan yang tidak tertampung saluran drainase menyebabkan tekanan pada struktur tanah dan bangunan.

Kondisi tersebut diperparah dengan tidak tersedianya drainase pelindung di sejumlah fasilitas publik. Di SMPN 03 Bojongmangu, air hujan langsung menekan struktur bangunan sekolah tanpa pengaliran yang memadai.

Hasil kajian Tim Jitupasna mencatat total nilai kerusakan dan kerugian sebesar Rp1.141.173.610. Rinciannya, kerusakan fisik mencapai Rp1.138.573.610 dan kerugian nonfisik sebesar Rp2.600.000.

Kerusakan tersebut meliputi empat rumah warga dan satu bangunan sekolah di SMPN 03 Bojongmangu. Kerusakan rumah warga tersebar di Kampung Legokcari, Kampung Legokbenda, dan Kampung Cibungur, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga sedang. Estimasi kerugian sektor permukiman mencapai sekitar Rp159 juta.

Muchlis menyebutkan, kerusakan paling signifikan terjadi pada gedung SMPN 03 Bojongmangu yang kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat pergerakan tanah di bawah struktur bangunan.

“Untuk SMPN 03 Bojongmangu, kami mencatat kerusakan yang memerlukan penanganan segera. Di lokasi tersebut belum tersedia saluran drainase yang memadai sehingga air langsung merusak pondasi sekolah,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, BPBD Kabupaten Bekasi telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak serta menyampaikan rekomendasi teknis kepada instansi terkait untuk penanganan jangka panjang. BPBD juga telah menyurati Plt Bupati Bekasi agar dilakukan koordinasi lintas sektor.

Rekomendasi tersebut melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi, serta Dinas Cipta Karya untuk perbaikan bangunan sekolah. Sementara itu, penanganan rumah warga didorong melalui Dinas Perumahan Rakyat.

BPBD Kabupaten Bekasi juga terus memantau pergerakan tanah di wilayah terdampak. Masyarakat Bojongmangu diimbau tetap waspada, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.

“Kami mengimbau masyarakat segera melapor apabila menemukan retakan baru pada tanah atau dinding rumah. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kerugian lebih besar maupun potensi korban jiwa,” kata Muchlis.

Penulis: A2TP Editor: Redaksi