Trans Bekasi Keren Diprotes Sopir Angkot, Baru Sehari Beroperasi Sudah Tuai Penolakan

KabarDesaNusantara.ComKOTA BEKASI — Program transportasi massal Trans Bekasi Keren yang baru diresmikan Pemerintah Kota Bekasi langsung menuai polemik. Belum genap sehari beroperasi, puluhan sopir angkutan kota (angkot) menggelar aksi unjuk rasa di depan Plaza Patriot Candrabhaga, Selasa (10/2/2026).

Dalam aksi tersebut, para sopir memarkirkan angkot di sekitar lokasi sambil membentangkan berbagai spanduk tuntutan.

Sejumlah tulisan bernada protes tampak mencolok, di antaranya “Kami Menolak Trans Bekasi Keren”, “Tidak Ada Koordinasi dengan Organda”, “Dishub Kota Bekasi Arogan”, hingga “Tolak Kapitalisasi Dunia Angkot”.

Persoalkan Trayek dan Program Gratis

Para sopir menilai kehadiran Trans Bekasi Keren yang beroperasi gratis di trayek yang bersinggungan langsung dengan angkot berbayar semakin menekan penghasilan mereka.

Salah satu sopir angkot trayek K-11, Sitompul, mengaku terdampak sejak armada bus tersebut mulai melintas di jalurnya.

“Saya (Sopir K-11), trayek kami sudah dimasuki Trans Bekasi Keren. Katanya gratis sampai dua tahun. Dalam satu trayek ada dua institusi, satu bayar, satu gratis. Ini pemerintah memihak siapa?” ujarnya.

Sitompul yang telah 25 tahun menjadi sopir angkot menyebut setoran harian mencapai Rp120 ribu, sementara pendapatan kini semakin sulit diperoleh.

“Kadang setor saja tidak dapat. Bagaimana mau kasih makan anak istri di rumah?” keluhnya.

Ia juga mempertanyakan keadilan kebijakan pemerintah terhadap para sopir angkot yang menggantungkan hidup dari sektor transportasi informal.

Klaim Tidak Ada Koordinasi

Selain soal penghasilan, para sopir mempersoalkan tidak adanya koordinasi maupun mediasi sebelum program dioperasikan.

“Kalau ada koordinasi, tidak akan begini. Kumpulkan pengusaha dan sopir, cari solusi. Jangan tiba-tiba masukkan trayek baru. Yang lama mau dikemanakan?” kata Sitompul.

Kekecewaan itu bahkan berdampak pada sikap politiknya. “Saya sudah tidak mau memilih. Negara ini carut-marut kalau begini caranya,” ucapnya.

Pendapatan Disebut Turun Drastis

Keluhan serupa disampaikan Inay (31), sopir angkot trayek K-25. Ia menegaskan para sopir tidak menolak modernisasi transportasi, namun meminta adanya persaingan yang adil.

“Kami tidak langsung nolak. Bisnya bagus, nyaman, rapi. Tapi sebagai sopir gimana? Dulu penghasilan cukup buat sekolah anak dan kebutuhan rumah,” katanya.

Menurutnya, pendapatan sopir angkot sudah menurun sejak hadirnya layanan bus sebelumnya, dan semakin terpuruk dengan beroperasinya Trans Bekasi Keren yang digratiskan.

“Dulu pendapatan 100 persen, sekarang paling 20 persen. Habis setoran dan bensin, cuma cukup buat makan. Tidak bisa lagi nabung,” ujarnya.

Ia menambahkan, transportasi online tidak terlalu berdampak karena menyasar segmen berbeda. Namun bus gratis di trayek yang sama dinilai sangat memukul pendapatan sopir.

“Sejak ada Bis Kita, lalu ditambah Trans Bekasi Keren, kami makin terjepit,” pungkasnya.

Menanti Tanggapan Pemerintah

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perhubungan Kota Bekasi maupun Pemerintah Kota Bekasi terkait tuntutan para sopir angkot.

Penulis: A2TP Editor: Redaksi